Tampilkan postingan dengan label CB : Interpersonal Development. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label CB : Interpersonal Development. Tampilkan semua postingan

Kamis, 14 Maret 2013

Lebih peduli terhadap sesama


Beberapa waktu yang lalu saya membaca sebuah kisah nyata yang terjadi di Cina tentang kecelakaan tragis di area Tiger Taming Hill. Kisah nyata tersebut mengungkap detik-detik sebelum kecelakaanterjadi. Berawal ketika 3 begundal yang kejam dan bengis memaksa seorang wanita sopir bis untuk melakukan tindak asusila. Sementara itu sebagian besar penumpang tidak sedikit pun peduli.Hati nurani mereka seakan tertutup rapat. Namun ada seorang pria paruh baya yang berusaha melawan keganasan para begundal itu dengan sekuat tenaga dan berteriak kepada rekannya sesama penumpang agar mau menolong. Tetapi usahanya sia-sia, karena tak satupun diantara para penumpang itu bergeming. Sehingga pria itupun terjungkal kesakitan setelah dihajar oleh 3 begundal.Setelah diperlakukan tidak senonoh, si sopir cantik itu justru berubah menjadi bersikap aneh. Ia tidak menunjukkan kesedihan, namun berlaku kasar kepada pria yang tadi berusaha menolongnya. Dengan nada suara keras sopir wanita tersebut balik mengusir pria tadi agar segera turun dari bis dan mengancam tidak akan mengemudikan bis bila pria tersebut nekat bertahan. Pria tersebut menolak pergi. Tetapi tiba-tiba beberapa penumpang lain yang bertubuh kekar menyeret pria tersebut turun lalu melemparkannya di jalanan tanpa belas kasihan sedikit pun. Pria itupun tersungkur bersama tas bawaannya. Sopir tersebut kemudian mengemudikan bis dengan kecepatan sangat tinggi. Tak seorangpun menduga bila sopir wanita itu tiba-tiba menghempaskan arah kemudi bis ke tebing curam. Keesokan harinya berbagai media surat kabar mengabarkan kecelakaan tragis yang menewaskan seluruh penumpang termasuk sang sopir cantik. Sebuah surat kabar menyebutkan bahwa pria paruh baya itu menangis histeris setelah membaca berita tersebut dari surat kabar.
Kita dapat melihat begitu berat menjalani peran seperti sosok pria paruh baya yang ada dalam kejadian di atas. Upaya yang begitu keras untuk menolong justru membuatnya dimusuhi dan dihajar habis-habisan oleh para begundal yang kejam. Ia harus menghadapi kenyataan pahit, karena usahanya meneriakkan moralitas kandas di tengah sikap para penumpang yang acuh tak acuh. Memang selalu ada risiko bila kita mencoba berbicara entah lewat kata-kata maupun perbuatan yang berlandaskan moralitas. Tetapi bercermin dari kisah tersebut, ternyata kita akan menanggung risiko yang lebih buruk atas kebisuan. Mungkin kita akan semakin sering melihat, mendengar, atau bahkan mengalami sendiri kisah tragis itu, apabila kita tidak peduli alias membutakan mata terhadap tindak apa pun yang mengabaikan moralitas. Jadi jangan ragu untuk menyuarakan kebenaran. Tetapi terlebih dahulu perbaiki diri, terutama sikap kita agar sesuai dengan nilai-nilai moralitas. Bersikaplah waspada untuk terus memperbaiki diri, karena perubahan itu terjadi secara perlahan tanpa kita sadari. Sementara itu, kumpulkan keberanian sebelum menghadapi situasi yang tidak menguntungkan. “Summon your courage, whatever it takes to get that courage, wherever that source of courage is for you. –
Kumpulkan keberanianmu, bagaimanapun caranya dan dimanapun Anda bisa mendapatkannya, ” kata Dr. Marsha Houston, dekan fakultas studi komunikasi universitas Alabama-AS. Keberanian Anda akan semakin besar untuk mengungkapkan ketidaksepahaman hati bila didasari motivasi ingin menegakkan moralitas. Kita dapat melihat bagaimana keberanian Sumidjan, seorang tokoh penggiat gerakan anti KKN asal Bontang. “Saya prihatin dengan keadaan bangsa ini. Kalau dibiarkan (KKN), bangsa ini akan bangkrut,” demikian ujar Sumidjan. Pria yang hanya tamatan SLTP itu beranggapan bahwa para koruptor adalah biang keterpurukan rakyat kecil sehingga mereka hidup terlunta-lunta. Sumidjan kerap berdemo dan mengkritik penguasa di kota Bontang. Motivasi Sumidjan semata-mata adalah ingin moralitas ditegakkan di kalangan pejabat, wakil rakyat, pemerintahan maupun penegak hukum. Tak mengherankan jika ia pantang menyerah meskipun sering menjadi korban tindak kekerasan, diancam dan dihajar preman saat berdemo. Pria yang sudah mendapatkan Tiga Pilar Award 2007 dari Meneg PAN
Taufik Effendi itu juga telah dilaporkan ke polisi dan divonis penjara 3 bulan, dan rumahnya nyaris dibakar, usahanya berjualan es campur di Bontang disabotase dan lain sebagainya. Semua itu tidak membuatnya surut langkah, bahkan sampai saat ini ia bertambah gencar melakukan aksi demo memprotes para koruptor yang tidak bermoral.
Jangan pula kita takut untuk menyuarakan kebenaran, selama tindakan tersebut dilakukan untuk membela kepentingan semua orang tanpa membeda-bedakan. “Jika Anda menjuluki seseorang secara rasis, maka sebuah tembok akan membentengi Anda dan dirinya. – If you simply call someone a racist, a wall goes up,” ungkap Dr. K.E. Supriya, seorang profesor ahli komunikasi di Universitas Wisconsin-Milwaukee dan ahli dalam aturan gender dan indentitas budaya dalam komunikasi.
Menyuarakan kebenaran adalah salah satu cara untuk memberi makna bagi diri kita sebagai umat manusia. Namun di tengah kultur kehidupan yang semakin individualis dan mendewakan materialism seperti saat ini, upaya menyuarakan kebenaran pasti mendapatkan tantangan cukup berat. Tetapi selama kita berkomitmen untuk memperjuangkan nilai-nilai moralitas maka suatu saat pasti kita akan memetik hasil yang positif pula. God Bless You all, Tetap Semangat, melakukan 1 kebaikan setiap hari.

Sumber:Pak Iwan, Dosen CB Binus 2013

Norma Norma kehidupan


Banyak orang yang tidak lagi memikirkan norma norma dalam kehidupannya untuk mencapai suatu hal . salah satu penyebab pudarnya suatu norma itu adalah karena adanya ketidakpuasan didalam diri . dimana ketidakpuasaan ini bermakna negatif yang memungkin kan seseorang melakukan yang tidak seharusnya dilakukan untuk dibuat, agar keinginannya itu tercapai . selain itu lingkungan hidup juga merupakan satu faktor yang cukup kuat dalam pudarnya norma.
Menggapai sukses memang tidak mudah, perlu kerja keras. Tidak ada jalan yang rata dan tidak ada jalan pintas. " Karena itulah kita harus menjadi buldozernya. Siapkan mental untuk jadi buldozer. Sukses bukan milik orang - orang tertentu. Sukses milik Anda, milik semua, milik siapa saja yang benar - benar menyadari, menginginkan dan memperjuangkannya dengan sepenuh hati, "
Kita semua semua harus mempunyai the power of action. Inilah yang menjadi roh dan semangat dari bangsa dan kita semua, yang menjadi kekuatan hidup untuk sukses. Hidup adalah aksi, setiap orang pasti ingin menjaid yang terbaik dalam hidupnya. Namun untuk mendapatkan keinginan tersebut, seseorang kerap dihalangi rasa takut, malas, egois, kurang bersyukur dan tidak percaya diri. " Dari semua ini yang menjadi top 3 yakni malu, malasdan tidak percaya diri. Karena itu, diperlukan sikap bahwa manusia harus merespon kepada kenyataan, bukan hanya sekedar merespon kepada apa yang tergambar dipikirannya, menang mulai dari diri sendirilah perang yang tak berkesudahan dan tak ada jaminan ada banyak pemenang. Di dalam diri sendiri ini ada banyak lawan, untuk lawan pertama, lawan paling mudah di kalahkan saja, sudah langsung menjadi lawan yang sulit dikalahkan, yakni panca indra. Indra itu, satu saja sudah musuh yang berat, apalagi lima. Mata misalnya. Banyak sekali tuntutan kepuasannya. Berapa banyak industri raksasa lahir dan mengeduk untung yang juga raksasa hanya dengan memakai mata sebagai segmen pasarnya.
Itu saja baru mata yang dirangsang secara eksternal, belum mata yang dirangsang secara internal. Saya ini lelaki, dan sudah menjadi seorang suami. Tetapi begitu melihat ada wanita cantik berkelebat, rasanya berat sekali untuk menahan diri. Setidaknya melirik dan mencuri-curi. Saya memang tidak melihat secara terus terang karena malu pada istri. Kalau istri sedang tak ada, saya malu pada diri sendiri. Malu tapi mau, itulah persoalannya. Saya bukan orang kuat melawan mata saya. Jika selama ini saya mencoba kuat, itu lebih karena saya bekerja sangat keras untuk menekan kemauan mata saya. Perlawanan itu sebenarnya hanya menunjukkan betapa lemah saya di hadapan panca indra.
Tapi hanya kuat melawan kehendak mata saja, tiba-tiba ada sesuatu yang menguat di dalam diri saya. Berbeda rasanya dengan saat saya kalah melawan kehendak mata. Serasa ada yang merosot dalam hidup saya. Rasa merosot itulah yang mendatangkan rasa susah, sementara rasa kuat itulah yang mendatangkan rasa bahagia. Jadi jelas, kebahagiaan itu lebih banyak menghuni ranah nilai, dan nilai itu bisa terletak di apa saja, di mana saja, sepanjang nilainya memang dijaga dan dimunculkan. Maka apa saja yang Anda punya, termasuk keterbatasan, akan menjadi sumber kebahagiaan kalau ia diubah menjadi sumber nilai.

Rabu, 13 Maret 2013

Nilai Dan Prioritas Kita


We do not act rightly because we have virtue or excellence, but we rather have those because we have acted rightly (Aristoteles )-
Sebagaimana pernah saya ungkap pada tulisan terdahulu, mengetahui kekuatan dan bakat-bakat kita tidaklah cukup. Memang Anda sudah sampai pada pemahaman diri yang lebih baik. Dengan bekal itu Anda juga sudah bisa memulai memikirkan langkah lebih lanjut. Anda sungguh sudah bisa take action !
Namun ada hal berikut yang juga harus Anda gali lebih dalam, yakni soal-soal yang menyangkut nilai-nilai , keyakinan dan kebajikan tertentu yang coba Anda pegang erat-erat dalam menjalani kehidupan sehari-hari.
Dalam wikipedia disebut bahwa value is a concept that describes the beliefs of an individual or culture. Nilai adalah konsep yang menjelaskan keyakinan seseorang atau satu budaya tertentu.
Secara lebih khusus, nilai pribadi (personal values) seseorang akan terkait dengan pilihan-pilihan yang akan diambil oleh individu. "Personal values are implicitly related to choice; they guide decisions by allowing for an individual's choices to be compared to each choice's associated values"
Jelas, bahwa nilai dan keyakinan menjadi hal penting. Ia menjadi semacam penyaring bagi banyak hal yang akan Anda lakukan. Kalau kekuatan, kelebihan-kelebihan dan bakat yang Anda miliki mendorong Anda untuk bergerak dan maju, maka nilai-nilai dan keyakinan yang Anda pegang bisa menjadi semacam rem yang bisa membantu Anda menahan laju gerak Anda. Ingat, bukan menahan laju untuk kemudian memaksa Anda berhenti. Ia menahan laju agar Anda sungguh sudah mempertimbangkan banyak hal sebelum melesat lebih cepat
Seperti hendak melaju di jalan tol yang mulus tanpa hambatan, punya pedal gas saja tidak lah cukup. Anda harus juga memastikan bahwa rem Anda berfungsi dengan baik. Begitu juga dengan banyak indikator yang ada di dashboard mobil Anda. Anda perlu memastikan masih berapa banyak bensin yang tersisa. Bagaimana dengan panas kendaraan ? Apakah temperatur dan pengatur AC bekerja dengan baik ? Bagaimana juga dengan cadangan oli mesin ? Lalu oli power steering apakah juga sudah dicek ? Bagaimana dengan air radiator ? Dan masih banyak hal yang harus Anda hitung agar Anda merasa mantap sebelum menginjak pedal gas menyusuri jalan sampai tempat tujuan Anda
Akan halnya dengan nilai-nilai dan keyakinan yang kita pegang, kita memang perlu dengan seksama memperhatikannya. Nilai dan keyakinan kitalah yang akan membantu kita untuk menentukan prioritas kita akan banyak hal. Ia akan membantu kita menyusun prioritas APA saja yang akan kita kejar dan juga prioritas terkait BAGAIMANA kita hendak mengejar yang kita mau. Kawan-kawan praktisi NLP menyukai konsep UJI EKOLOGIS (ecological check), untuk menguji dan memastikan bahwa sasaran dan impian Anda "tidak melanggar rambu-rambu"
Pada titik yang ekstrem, nilai yang Anda anutlah yang akan membantu Anda untuk tidak menghalalkan segala cara. Anda punya panduan dan pagar, agar perilaku Anda tidak melanggar aturan atau norma tertentu. Nilai dan keyakinan Anda jugalah yang pada satu saat memberi sinyal berupa rasa tidak nyaman dalam hati, terutama saat Anda melakukan sesuatu yang kurang "pas"
Repotnya, nilai-nilai personal juga cenderung subyektif. Anda bisa terperangah melihat kawan Anda santai saja melakukan sesuatu yang di mata Anda adalah sebuah kesalahan. Anda bisa adu argumen sangat panjang membahas perbedaan sudut pandang terhadap satu hal yang mungkin sederhana.
Bagi penganut prinsip kesenangan, maka dugem dan pesta pora di kelab malam adalah hal biasa. Sementara Anda yang memegang nilai kepatutan, mungkin akan merasa tak nyaman melakukan hal itu lalu memutuskan memilih hal lain untuk mendapatkan kesenangan. Saya yang meyakini dunia anak adalah dunia bermain akan sangat marah jika anak-anak saya yang masih di kelompok bermain diharuskan bisa baca dan tulis. Dan sungguh saya memang sempat kesal saat menemui hal sedemikian yang menimpa anak-anak saya
Buat saya sekarang ini, sejumlah nilai dan keyakinan yang terkuat menuntun saya adalah sebagai berikut :
1. authenticity - ini menyangkut menjadi diri sendiri2. balance - keseimbangan adalah kata penting buat saya, agar kita tak limbung dan kosong3. empowerment - ini sejalan dengan semangat untuk membantu orang lain berkembang4. integrity - ini terkait dengan bagaimana menjalankan apa yang memang benar , kejujuran,5. positive outlook - melihat dari kaca mata lebih cerah menjadikan hidup lebih berwarna6. trustworthiness -menjaga kepercayaan adalah perekat hubungan yang hendak saya bangun7. wisdom - menjadi lebih bijak, mempertimbangkan banyak hal dan empatik terhadap sudut pandang orang lain
Contoh sederhana dalam kasus saya mungkin bisa menjadi sedikit pengantar bahwa pada satu saat Anda akan menemukan bahwa ada sejumlah nilai dan prinsip yang Anda yakini yang ternyata saling terkait dengan yang lainnya. Menjadi diri sendiri, menjadi otentik berhubungan dengan konsep jujur dan integritas. Menjaga integritas berhubungan dengan soal kepercayaan dan seterusnya.
Pembahasan detil tiap nilai saya bebaskan pada Anda masing-masing. Paling tidak, hal itu tidak saya bahas pada kesempatan ini. Namun sekedar contoh, saya bisa berbagi cerita bahwa berpegang para nilai-nilai di atas membuat saya berusaha sekuat mungkin memegang janji. Kalau ada banyak kawan yang menumpahkan uneg-uneg, maka saya sebisa mungkin mencoba menjaga namanya. Biasa, di kantor ada juga jenis atasan yang tak nyaman ketika anak buahnya sering mondar-mandir bicara pada orang HRD
" Anak buah saya bicara apa sama Bapak ?", begitu yang biasa ditanyakan oleh atasan pada saya saat mencoba mencari tahu apa yang terjadi. Tentu ada bagian yang bisa saya buka, namun lebih banyak yang saya tutup karena menyangkut "masa depan" anak buah itu. Pengalaman menunjukkan beberapa "vokalis" (karyawan vokal) akan tersendat masa depan karirnya.
Memang berat, apalagi ketika pada saat yang sama saya juga berupaya menjaga nilai lainnya. Maka pada beberapa kesempatan Anda pun harus bisa main cantik, harus bisa membuat keseimbangan sehingga keputusan yang Anda ambilpun akan jadi lebih bijak. Dan buat saya tantangan terbesar dalam menjaga nilai-nilai pribadi memang lebih banyak pada soal menjaga integritas dan menjadi diri otentik.
Serbuan, godaan dari lingkungan sekitar begitu mudah membelokkan kita pada pilihan-pilihan yang bisa jadi tidak selaras dengan nilai yang Anda anut. Dan menjaga integritas adalah juga soal kesiapan menghadapi resiko yang muncul. Kadang Anda harus siap menjadi "bad boy" saat mempertahankan integritas Anda. Anda bisa jadi "public enemy" ketika bertahan memperjuangkan nilai-nilai pribadi Anda.
Namun lepas dari soal hadangan, kendala dan masalah yang bakal dihadapi saat mempertahankan nilai-nilai kita, maka tetap saja kita tak bisa menutup mata atas sisi manfaatnya. Terkait dengan pengejaran kita pada cita-cita, maka penyelarasan tujuan dengan nilai pribadi semoga akan mengantar kita pada kebahagiaan yang didamba. Ketidakmampuan kita menyelaraskan impian dan nilai-nilai prinsipil bisa membuat kita kehilangan makna. Tak sedikit bukan ada orang yang tampaknya sukses (menurut ukuran kita), namun pada kenyataannya mereka hampa dan hidup tak bergairah. Ini bisa terjadi karena apa yang mereka raih tak mewakili dan tak mencerminkan nilai terdalam mereka. Sebaliknya ada individu yang mungkin biasa saja pencapaian sosialnya, namun justru tampak kaya secara emosional.
Sadar, bahwa soal nilai juga menyangkut subjektivitas pribadi, maka saya serahkan kembali pada Anda. Pilihan ada di depan Anda. Anda yang memilih menu mana yang sesuai dengan gambaran masa depan dan hidup yang Anda inginkan.

sumber :Dosen CB, Pak Iwan

Sabtu, 09 Maret 2013

Membangun jaringan sosial secara tepat dan efektif

Banyak orang menjadi malas untuk saling bertemu dan berkomunikasi langsung karena banyaknya social network seperti facebook dan twitter. Bahkan parahnya orang yang sudah duduk bersama, masih saja sibuk dengan handphone masing-masing. kita harus bisa memanfaatkan teknologi secara bijaksana. Jangan sampai berkomunikasi di dunia nyata semakin minim karena terlalu asyik berkomunikasi melalui internet.
ya sungguh benar pendapat anda tersebut karena kita saat ini dihadapi realita realita seperti itu maka dituntut kebijakan kita dalam mensikapi nya.
Sekali lagi, internet ternyata juga punya sisi negatif. Jika dalam berita sebelumnya, disebutkan adanya game di internet bisa membuat orang lupa diri hingga meninggal kelelahan. Kali ini, menurut sebuah penelitian yang dilakukan di Amerika, internet bisa membuat orang kecanduan dan lupa bersosialisasi.
Dalam sebuah penelitian yang dilakukan JWT Adforce, salah satu biro iklan terbesar di Amerika, didapatkan kenyataan bahwa banyak orang yang ternyata tak dapat melewati waktu tujuh hari dalam seminggu tanpa online. Bahkan, mereka rela mengesampingkan teman-teman dan lingkungan sosialnya.
Penelitian yang dilakukan JWT itu melibatkan setidaknya 1.011 responden. Dari jumlah tersebut, 15 persen yang disurvei mengaku hanya bisa bertahan sehari atau bahkan kurang tanpa internet. Sekitar 21 persen mengaku hanya bisa bertahan maksimal dua hari, dan sekitar 19 persen mengaku tiga hari sebagai batas paling lama tidak terkoneksi dengan internet.
Kebutuhan akses internet ini, bahkan menurut orang yang disurvei, membuat mereka merasa kehilangan sesuatu jika tak terkoneksi dalam dunia maya itu. Jumlah responden yang mengaku merasakan hal tersebut ada sekitar 48 persen. Dan, parahnya, ada juga sekitar 28 persen yang disurvei mengaku sengaja mengurangi waktu bersosialisasi dengan orang sekitarnya hanya untuk online. Yang paling mengejutkan, bahkan 20 persen responden mengaku rela mengurangi waktu untuk memenuhi kebutuhan biologisnya, yakni memenuhi hasrat seks dengan pasangan.
Ann Mack, direktur JWT yang merilis penelitian itu mengatakan bahwa para responden mengaku merasa gelisah, terisolasi serta bosan jika dipaksa untuk offline. Ini membuktikan bahwa internet telah jadi semacam candu bagi manusia. Berbahaya atau tidakkah candu ini? Masing-masing individu lah yang menentukannya. Bagaimana dengan Anda?

Sumber : Dosen CB Interpersonal Development Pak Iwan Irawan, SH., MBA

Senin, 18 Februari 2013

Introduction to Interpersonal Development


1.Semua orang ingin mencapai kesuksesan, akan tetapi hanya sedikit yang tahu bagaimana caranya untuk sampai ke sana. Salah satu kunci untuk mencapainya adalah dengan meningkatkan kekuatan Interpersonal skill. topik diskusi adalah : Mengapa orang-orang tertentu mampu mencapai kesuksesan, sementara ada pula yang tidak kunjung sukses ?
2.Menurut pendapat anda mengapa kemampuan atau kekuatan interpersonal skill seseorang dapat menjadi kunci untuk mencapai kesuksesan seseorang ? (berikan contoh konkrit dalam kehidupan anda untuk mendukung jawaban anda tersebut)
3.Apa yang dimaksudkan dengan Interpersonal skill dan apa pentingnya Interpersonal Skill bagi pengembangan kehidupan social manusia.

Jawaban
1.Semua orang ingin mencapai kesuksesan, akan tetapi hanya sedikit yang tahu bagaimana caranya untuk sampai ke sana. Salah satu kunci untuk mencapainya adalah dengan meningkatkan kekuatan Interpersonal skill. topik diskusi adalah : Mengapa orang-orang tertentu mampu mencapai kesuksesan, sementara ada pula yang tidak kunjung sukses ? 
Terkait dengan orang orang tertentu yang mampu mencapai kesuksesan sementara ada pula yang tidak kunjung sukses terdapat 
a.Orang orang yang mampu menggapai kesuksesan
Orang orang yang mampu menggapai kesuksesan adalah orang orang yang mampu menerapkan interpersonal skill dalam kehidupan sehari harinya dalam mendukung kesuksesan yang diraih orang tersebut sehingga orang tersebut dapat mencapai kesuksesan.Keterampilan interpersonal skill harus dikuasasi oleh siapapun karena setiap orang dewasa pastinya akan berhubungan dengan orang lain yang berasal dari latar belakabng yang berbeda satu dengan yang lainnya sehingga keterampilan interpersonal skill harus dikuasasi untuk mendukung kesuksesan yang akan diraih orang tersebut.

b.Orang orang yang belum kunjung sukses
Orang orang yang belum kunjung sukses adalah orang orang yang belum menerapkan interpersonal skill dalam kehidupannya sehingga orang tersebut belum kunjung sukses dalam menjalani kehidupannya. Ketika orang tersebut hanya berorientasi kepada diri sendiri, dan tidak memikirkan bagaimana caranya untuk melakukan interpersonal skill dengan lingkungan sekitar, hal tersebut tentunya dalam meraih kesuksesan belum kunjung datang. Untuk ukuran sukses disini saya artikan kesuksesan dalam hal dunia dalam meraih kesuksesan dalam dunia untuk memperoleh apa yang diinginkan di dunia oleh orang tersebut.

2. Menurut pendapat anda mengapa kemampuan atau kekuatan interpersonal skill seseorang dapat menjadi kunci untuk mencapai kesuksesan seseorang ? (berikan contoh konkrit dalam kehidupan anda untuk mendukung jawaban anda tersebut) 
Menurut pendapat saya kemampuan atau kekuatan interpersonal skiil dapat menjadi kunci untuk mencapai kesuksesan seseorang karena dengan interpersonal skill dapat mendorong diri dalam dalam menjalankan bisnis dan menentukan peluang yang diharapkan dalam diri untuk memanfaatkan peluang yang ada.


3. Apa yang dimaksudkan dengan Interpersonal skill dan apa pentingnya Interpersonal Skill bagi pengembangan kehidupan social manusia.
Interpersonal skill merupakan kemampuan diri pribadi dalam melakukan komunikasi, sosialisasi, negoisasi terhadap orang orang yang berada pada sekitar sehingga mampu menyesuaikan dengan lingkungan sekitar dalam memahami latar belakang, kepentingan dan pandangangan dari seseorang.