Tampilkan postingan dengan label Knowledge Management. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Knowledge Management. Tampilkan semua postingan

Kamis, 02 Februari 2012

Jelaskan, tantangan yang dihadapi oleh KM di masa mendatang! Bagaimana cara menanganinya


Knowledge Management semakin diperlukan karena pada saat ini, telah terjadi globalisasi bisnis dimana perusahaan-perusahaan sudah lebih mengglobal. Di samping itu, dengan kecanggihan teknologi saat ini, antara belahan dunia yang satu dengan belahan dunia yang lain menjadi saling terhubung satu sama lain. Hal tersebut seringkali menuntut seseorang untuk tetap “on” setiap saat. Dengan Knowledge Management, kita dapat menggunakan kembali pengetahuan yang sudah ada untuk meningkatkan efisiensi dimana dapat membantu kita untuk mengerjakan pekerjaan dengan lebih cepat dan murah misalnya dalam melakukan pembuatan keputusan ataupun pemecahan masalah. Knowledge Management juga bertujuan untuk meningkatkan inovasi guna memperkenalkan cara-cara baru yang efektif dalam melakukan sesuatu.

Seiring dengan semakin berkembangnya zaman, sekiranya terdapat beberapa tantangan utama yang dapat dihadapi KM di masa depan. Tantangan tersebut dapat terjadi pada:
• Orang-orang yang terkait di dalamnya
• Isu-isu kebudayaan yang berkembang dalam perusahaan
• Teknologi yang semakin lama semakin canggih
• Pelaksanaan KM yang terisolasi dari tujuan bisnis
• Penolakan aspek-aspek dinamis konten
• Pencondongan pada kuantitas yang banyak dibandingkan pada kualitas

Dalam hal ini, masalah utama yang terjadi dalam KM biasanya terjadi karena perusahaan menolak orang-orang dan isu-isu kebudayaan. Dalam suatu lingkungan dimana pengetahuan individu dinilai dan diberikan penghargaan, pembangunan suatu budaya yang mengenali tacit knowledge dan mendukung para karyawan untuk berbagi pengetahuan satu sama lain adalah hal yang sulit untuk dilakukan.



Mengadaptasi organisasi pada pasar sekarang .

Stephen Covey mendeskripsikan knowledge economy sebagai suatu sistem ekonomi yang ditandai oleh beberapa faktor.

· Pertama, globalisasi pasar dan teknologi. Saat ini hampir tidak ada pasar yang tidak dapat ditembus oleh produk negara mana pun. Dengan bantuan teknologi, siapa pun dapat mendekatkan lokasi produksi ke pasar-pasar regional.

· Kedua, demokrasi dari informasi dan ekspektasi. Saat ini pengetahuan tentang apa pun tersedia melimpah di internet dan aksesibilitas masyarakat ke internet dari hari ke hari semakin terbuka.

· Ketiga, konektivitas universal. Hubungan antarmanusia tidak lagi dapat dibatasi oleh jarak dan bahasa, sehingga saat ini networking dan sinergi semakin mempermudah penyediaan jasa dan produk.

· Keempat, peningkatan intensitas kompetisi yang bersifat eksponensial. Hal ini ditandai dengan adanya kompetisi yang bersifat global dengan terbukanya perdagangan bebas.

· Kelima, pergeseran kekayaan (modal) dari uang ke manusia.

· keenam, knowledge worker market. Para profesional yang memiliki kompetensi yang dibutuhkan organisasi kini semakin bebas menentukan pilihan tempat kerjanya.

intensitas kompetisi di masa datang akan semakin meningkat. ada beberapa tantangan yang harus dijawab oleh perusahaan yang ingin memenangkan kompetisi di masa depan, yaitu: kolaborasi, inovasi, adaptasi, penguasaan teknologi dan pasar, serta pengelolaan aset-aset intelektual perusahaan. Tantangan-tantangan inilah yang mendorong munculnya kebutuhan terhadap penerapan knowledge management (KM).

Tobing menjelaskan, kolaborasi merupakan kata kunci bagi perusahaan yang ingin tetap meminpin dalam lingkungan bisnis yang kompetitif. Perusahaan yang ingin menang dalam kompetisi, tidak hanya mengandalkan kemampuan individu atau pengetahuan yang dimiliki unit kerja tertentu. Menurutnya, hasil terbaik hanya dapat diperoleh melalui kolaborasi antarindividu, antarunit, antarfungsi, dan antardisiplin pengetahuan. Di samping itu, juga diperlukan kerja sama yang kreatif antar perspektif dan skill yang berbeda.

Kolaborasi yang efektif akan meningkatkan daya saing organisasi yang difasilitasi dan dihasilkan oleh penerapan KM. Selain kolaborasi, eksistensi KM di organisasi didorong oleh kebutuhan untuk selalu inovatif, serta adanya tantangan untuk mempercepat penyediaan produk dan layanan. ”Tanpa produk dan layanan yang inovatif, perusahaan akan tertinggal dari kompetitornya,” Tobing menandaskan. Ia menilai, implementasi KM dapat merangsang inovasi dengan menyediakan kanal yang luas untuk munculnya ide-ide kreatif dan hadirnya pengetahuan baru dari karyawan.

Tantangan lain yang menurut Tobing dihadapi organisasi saat ini adalah menjadikan perusahaan adaptif terhadap berbagai dinamika di pasar dan pelanggan. Salah satu upaya yang dapat dilakukan yaitu melakukan perubahan strategi yang biasanya diikuti dengan perubahan struktur organisasi. Masalah akan muncul ketika perubahan organisasi terhambat oleh kelangkaan personel yang memiliki kompetensi yang dibutuhkan untuk mengisi posisi-posisi strategis. Hal ini dapat terjadi karena sebagian besar pengetahuan tersedia dalam bentuk tacit knowledge yang tersimpan pada personel tertentu yang memiliki mobilitas tinggi.

Masalah tersebut dapat diatasi dengan membangun komunitas yang bertujuan untuk berbagi pengetahuan dari orang-orang yang memiliki minat dan kepentingan yang sama demi mengembangkan pengetahuan karyawan dalam praktik tertentu. Komunitas seperti ini disebut Community of Practice (CoP). Proses transfer pengetahuan sebaiknya dilakukan secara sukarela, bukan dengan paksaan, sehingga hasilnya pun optimal. Bagaimanapun, implementasi KM bertujuan untuk menjaga dan mengalirkan pengetahuan di organisasi agar tetap terpelihara dan senantiasa tersedia bagi karyawan yang membutuhkan.


Reff :
http://agustinwulan.blog.perbanas.ac.id/2011/10/09/artikel-bab-8-mengadaptasi-organisasi-pada-pasar-sekarang/



Sabtu, 31 Desember 2011

Comunity praktek

Salah satu kebutuhan untuk membedakan antara apa yang CoP dan apa yang tidak. Ada tiga komponen yang diperlukan CoP yaitu:
1. Perlu ada domain. Sebuah CoP memiliki identitas didefinisikan oleh domain dengan berbagi kepentingan (ahli radiologi misalnya, penggemar Star Trek, guru sekolah menengah sejarah, Seahawks penggemar sepak bola, dll), itu tidak hanya jaringan orang-orang atau klub teman-teman. Keanggotaan menyiratkan komitmen untuk domain.
2. Perlu ada sebuah komunitas. Sebuah komponen yang diperlukan adalah bahwa anggota dari suatu domain yang spesifik berinteraksi dan terlibat dalam kegiatan bersama, saling membantu, dan berbagi informasi dengan satu sama lain. Mereka membangun hubungan yang memungkinkan mereka untuk belajar dari satu sama lain. Dengan cara ini, hanya berbagi pekerjaan yang sama tidak mengharuskan suatu CoP. Sebuah situs web statis dalam berburu sendiri bukanlah komunitas praktek. Perlu ada orang-orang yang berinteraksi dan belajar bersama dalam rangka untuk CoP akan dibentuk. Perhatikan bahwa anggota tidak selalu bekerja sama sehari-hari, namun. Wenger poin ke contoh pelukis impresionis yang kadang-kadang bertemu di kafe-kafe untuk mendiskusikan gaya lukisan mereka. Dia menunjukkan bahwa meskipun orang-orang ini biasanya dicat sendiri, jenis-jenis interaksi yang penting untuk membuat mereka menjadi suatu CoP.
3. Perlu ada praktek: CoP A tidak hanya orang-orang yang memiliki minat pada sesuatu (misalnya olahraga atau praktik pertanian). Persyaratan ketiga untuk CoP adalah bahwa anggota praktisi. Mereka mengembangkan sebuah repertoar bersama sumber daya yang dapat mencakup cerita, alat membantu, pengalaman, cerita, cara penanganan masalah-masalah khas, dll Hal ini jenis interaksi perlu dikembangkan dari waktu ke waktu. Sebuah percakapan dengan orang asing acak yang kebetulan menjadi seorang ahli pada subjek yang menarik minat Anda tidak dengan sendirinya membuat suatu CoP. Percakapan informal yang diselenggarakan oleh orang-orang dari profesi yang sama (misalnya kantor atau asisten mahasiswa pascasarjana) membantu orang berbagi dan mengembangkan satu set kasus dan cerita yang dapat menjadi daftar cerita / share bersama untuk praktek mereka, apakah mereka menyadarinya atau tidak.

Sumber: http://www.learning-theories.com/communities-of-practice-lave-and-wenger.html

Terima kasih,
julius

Sabtu, 17 Desember 2011

kujiro Nonakan dan Hirotaka Takaeuchi mengusulkan suatu model dari proses menciptakan pengetahuan

Kujiro Nonakan dan Hirotaka Takaeuchi mengusulkan suatu model dari proses menciptakan pengetahuan untuk memahami sifat dinamis dari penciptaan pengetahuan dan untuk mengelola proses pengetahuan tersebut secara efektif. The SECI model adalah spiral model yang diciptakan oleh mereka, dimana tactic knowledge dan explicit knowledge berinteraksi dengan satu sama lain dalam proses yang berkesinambungan dan proses ini mengarah pada penciptaan pengetahuan yang baru. Spiral model menjelaskan bahwa pengetahuan yang dimiliki oleh individu dibagi dengan orang lain sehingga interkoneksi antar individu ini dapat menciptakan pengetahuan yang baru. Spiral knowledge atau sering dikatakan jumlah pengetahuan akan terus bertambah seiring dengan banyaknya interaksi dan sharing pengetehuan antar individu, dalam gambar spiral model, berkembanganya jumlah pengetahuan dapat dilihat dari besar kecilnya lingkaran spiral knowledge, semakin besar lingkaran spiral knowledge maka semakin besar pengetahuan yang dimiliki oleh setiap individu.

Ada 4 tahapan dalam model Nonaka dan Takaeuchi, yaitu :

a. Socialization
Socialisation merupakan proses berbagi knowledge, berbagi visi dan berbagi model mental antar anggota perusahaan (connect people to people) untuk menciptakan knowledge yang baru. Sharing dan penciptaan tacit knowledge melalui interaksi dan pengalaman langsung. Tacit knowledge disampaikan melalui proses sosialisasi dalam tim kerja (coaching), proses diskusi dan kemudahan seseorang untuk menghubungi rekan kerja yang mempunyai kompetensi atau keahlian dalam satu bidang.

b. Externalization
.Externalisation merupakan pengartikulasian tacit knowledge menjadi explicit knowledge melalui proses dialog dan refleksi. Dengan kata lain, Menerima dan membagikan knowledge yang dimiliki seorang individu kepada orang lain agar menjadi explicit. Konsep atau ide yang dimiliki anggota perusahaan dicoba dioperasionalkan, bisa melalui proses learning by doing, untuk menghasilkan technical know-how yang baru. Hal ini dapat terjadi melalui proses on the job training atau simulasi praktikal.

c. Combination
Combination merupakan proses konversi dari explicit knowledge menjadi explicit knowledge yang baru sistemisasi dan pengaplikasian explicit knowledge dan informasi. Pada proses combination memanipulasi explicit knowledge yang dimiliki para individu-individu dengan cara menyortir, menambahkan atau mengkombinasikan diantara beberapa explicit knowledge, menjadi explicit knowledge yang baru. Hal ini dapat terjadi misalnya melalui melalui proses on the job training atau berbagi knowledge dan praktek lapangan.

d. Internalization
Internalisation merupakan proses pembelajaran dan akuisisi knowledge yang dilakukan oleh semua anggota perusahaan terhadap explicit knowledge yang disebarkan ke seluruh perusahaan melalui pengalaman sendiri sehingga menjadi tacit knowledge anggota perusahaan. Pada akhirnya, knowledge yang bersifat explicit tersebut dapat dipelajari, dipahami dan dikembangkan sesuai dengan kemampuan masing-masing individu. Knowledge yang telah mengalami proses internalisation, kembali menjadi tacit knowledge, yang kemudian perlu diubah kembali menjadi explicit knowledge, demikianlah seterusnya. Melalui siklus ini, dari waktu ke waktu aset knowledge perusahaan akan semakin menjadi kaya dan berkembang.

Sumber :
[1] http://iperpin.wordpress.com/category/organisasi/page/6/
[2] http://knowledgeandmanagement.wordpress.com/seci-model-nonaka-takeuchi/

Jumat, 16 Desember 2011

Jelaskan pemahaman anda mengenai proses socilization dan combination yang terdapat pada model nonaka dan takeuchi serta berikan contohnya

Pada topik minggu ini kita akan membahas mengenai beberapa jenis KM Model, namun model yang paling sering digunakan adalah milik nonaka dan takeuchi. Oleh karena itu pembahasan kita akan memfokusikan pada model nonaka dan takeuchi. Jelaskan pemahaman anda mengenai proses socilization dan combination yang terdapat pada model nonaka dan takeuchi serta berikan contohnya (bisa disesuaikan dengan pengalaman sendiri.

Jawaban.

Socialization/Sosialisasi, menjelaskan saling berbagi antar tacit knowledge, umumnya tanpamelibatkan hal-hal formal, misalnya sharing budaya organisasi antara anggotaorganisasi yang lama dengan anggota yang barn dengan tujuan anggota yang baizemampu beradaptasi dengan budaya organisasi. Contoh nyata perubahan tacit ke
explicit knowledge misalnya bila perusahaan ingin menerapkan penggunaan mesinmesin barn dalam proses produksi maka perusahaan mengirimkan wakilnya untukbelajar mesin tersebut. Hal yang mungkin dilakukan pertama kali adalah dengan melalcukan mengamati, mengobservasi, serta mempraktekan mesin tersebut selama
pelatihantransfer knowledge dari satu individu ke individu lainnya dalam bentuk tacit knowledge. Disebutkan bahwa Socialization muncul dari aktivitas “berbagi dan menciptakan


Combination/Kombinasi, mengkombinasikan antar explicit knowledge yang dipunyai oleh individulain dengan explicit knowledge yang dipunyai oleh diri sendiri contoh konkritadalah sekolah-sekolah bisnis yaitu MBA, dan MM. Misalnya agar semakin banyakorang yang dapat memanfaatkan mesin tersebut dibuatlah standar prosedur operasi
atau buku petunjuk penggunaan agar lebih banyak orang mempelajarinya, selain itumengorganisasi kumpulan Explicit knowledge ke dalam satu bentuk mediayang lebis sistematis, melalui proses penambahan knowledge baru, kombinasi dankategorisasi pengetahuan yang telah terkumpul,proses sistematisasi konsep menjadi pengetahuan sistem. Dalam konversi ini melibatkan kombinasi dari pengetahuan eksplisit yang berbeda-beda. Perubahan individu dan kombinasi pengetahuan melalui media seperti dokumen, pertemuan (meeting), percakapan telepon, 
atau melalui jaringan komunikasi terkomputerisasi. 


Contoh (diambil dari sumber)
Pada proses penyesuaian di tahap adaptasi, pimpinan senantiasa memantau aktivitas Divisi Manufaktur dengan melakukan pertemuan mingguan terkait dengan implementasi Six Sigma. Pertemuan tersebut dilakukan antara Green Belt dan Black Belt manufaktur, manajer departemen manufaktur dan non manufaktur. Hasil pertemuan tersebut dilaporkan kepada general manajermanufaktur, yang selanjutnya general manajer akan memberikan laporan kepada presiden direktur. Nonaka dan Takeuchi (1995) menyatakan bahwa pertemuan (meeting) sebagai salah satu media pembelajaran, dimana dalam aktivitas ini terjadi proses sosialisasi, internalisasi, eksternalisasi dan kombinasi. Dalam proses pertemuan ini terjadi diskusi dan tukar informasi berkaitan dengan pelaksanaan pelatihan Six Sigma para staf Perusahaan X. Setelah beberapa kali pertemuan mingguan dilakukan, terbentuk kesepakatan untuk mempercepat proses internalisasi Six Sigma di dalam perusahaan. Upaya yang dilakukan yaitu dengan memberikan pelatihan internal kepada Black Belt engineering yang telah memperoleh pelatihan level Green Belt. Black Belt engineering pada dasarnya merupakan Black Belt bayangan karena tidak di-assign untuk sertifikasi Black Belt. Tujuan pelatihan Black Belt engineering agar proses pelatihan lebih cepat, dimana Black Belt engineering tersebut dapat membimbing staf memahami metode-metode pelatihan yang diberikan. Black Belt engineering terdiri dari lima orang staf produksi dan dua orang staf kualitas. Black Belt engineering dilatih oleh Black Belt Perusahaan X yang telah memiliki sertifikasi, dari hal tersebut menerangkan antara kombinasi dan sosialisasi.

Sumber.
[1]Aldi,Jurnal.Ekstensi Fakultas EkonomiUndip.http://eprints.undip.ac.id/14967/1/Menjadikan_Manajemen_Pengetahuan_Sebagai....by_B._Elnath_Aldi.pdf
[2]Damayanti,wulan, retno.Jurnal.Pembelajaran dalam proses implementasi manajemenkualitas.http://repository.akprind.ac.id/sites/files/conferencepaper/2008/damayanti_21222.pdfhttp://repository.akprind.ac.id/sites/files/conference-paper/2008/damayanti_21222.pdf
[3].Nonaka, I., dan H. Takeuchi, 1995, The Knowledge Creating Company, Oxford University Press, New York
[4] LN

Rabu, 14 Desember 2011

proses socilization dan combination yang terdapat pada model nonaka dan takeuchi serta berikan contohnya (bisa disesuaikan dengan pengalaman sendiri).



Jelaskan pemahaman anda mengenai proses socilization dan combination yang terdapat pada model nonaka dan takeuchi serta berikan contohnya (bisa disesuaikan dengan pengalaman sendiri). 
Socialization/Sosialisasi, menjelaskan saling berbagi antar tacit knowledge, umumnya tanpamelibatkan hal-hal formal, misalnya sharing budaya organisasi antara anggotaorganisasi yang lama dengan anggota yang barn dengan tujuan anggota yang baizemampu beradaptasi dengan budaya organisasi. Contoh nyata perubahan tacit ke
explicit knowledge misalnya bila perusahaan ingin menerapkan penggunaan mesinmesin barn dalam proses produksi maka perusahaan mengirimkan wakilnya untukbelajar mesin tersebut. Hal yang mungkin dilakukan pertama kali adalah dengan melalcukan mengamati, mengobservasi, serta mempraktekan mesin tersebut selama
pelatihantransfer knowledge dari satu individu ke individu lainnya dalam bentuk tacit knowledge. Disebutkan bahwa Socialization muncul dari aktivitas “berbagi dan menciptakan


Combination/Kombinasi, mengkombinasikan antar explicit knowledge yang dipunyai oleh individulain dengan explicit knowledge yang dipunyai oleh diri sendiri contoh konkritadalah sekolah-sekolah bisnis yaitu MBA, dan MM. Misalnya agar semakin banyakorang yang dapat memanfaatkan mesin tersebut dibuatlah standar prosedur operasi
atau buku petunjuk penggunaan agar lebih banyak orang mempelajarinya, selain itumengorganisasi kumpulan Explicit knowledge ke dalam satu bentuk mediayang lebis sistematis, melalui proses penambahan knowledge baru, kombinasi dankategorisasi pengetahuan yang telah terkumpul,proses sistematisasi konsep menjadi pengetahuan sistem. Dalam konversi ini melibatkan kombinasi dari pengetahuan eksplisit yang berbeda-beda. Perubahan individu dan kombinasi pengetahuan melalui media seperti dokumen, pertemuan (meeting), percakapan telepon, 
atau melalui jaringan komunikasi terkomputerisasi. 


Contoh (diambil dari sumber)
Pada proses penyesuaian di tahap adaptasi, pimpinan senantiasa memantau aktivitas Divisi Manufaktur dengan melakukan pertemuan mingguan terkait dengan implementasi Six Sigma. Pertemuan tersebut dilakukan antara Green Belt dan Black Belt manufaktur, manajer departemen manufaktur dan non manufaktur. Hasil pertemuan tersebut dilaporkan kepada general manajermanufaktur, yang selanjutnya general manajer akan memberikan laporan kepada presiden direktur. Nonaka dan Takeuchi (1995) menyatakan bahwa pertemuan (meeting) sebagai salah satu media pembelajaran, dimana dalam aktivitas ini terjadi proses sosialisasi, internalisasi, eksternalisasi dan kombinasi. Dalam proses pertemuan ini terjadi diskusi dan tukar informasi berkaitan dengan pelaksanaan pelatihan Six Sigma para staf Perusahaan X. Setelah beberapa kali pertemuan mingguan dilakukan, terbentuk kesepakatan untuk mempercepat proses internalisasi Six Sigma di dalam perusahaan. Upaya yang dilakukan yaitu dengan memberikan pelatihan internal kepada Black Belt engineering yang telah memperoleh pelatihan level Green Belt. Black Belt engineering pada dasarnya merupakan Black Belt bayangan karena tidak di-assign untuk sertifikasi Black Belt. Tujuan pelatihan Black Belt engineering agar proses pelatihan lebih cepat, dimana Black Belt engineering tersebut dapat membimbing staf memahami metode-metode pelatihan yang diberikan. Black Belt engineering terdiri dari lima orang staf produksi dan dua orang staf kualitas. Black Belt engineering dilatih oleh Black Belt Perusahaan X yang telah memiliki sertifikasi, dari hal tersebut menerangkan antara kombinasi dan sosialisasi.

Sumber.
[1]Aldi,Jurnal.Ekstensi Fakultas EkonomiUndip.http://eprints.undip.ac.id/14967/1/Menjadikan_Manajemen_Pengetahuan_Sebagai....by_B._Elnath_Aldi.pdf
[2]Damayanti,wulan, retno.Jurnal.Pembelajaran dalam proses implementasi manajemenkualitas.http://repository.akprind.ac.id/sites/files/conferencepaper/2008/damayanti_21222.pdfhttp://repository.akprind.ac.id/sites/files/conference-paper/2008/damayanti_21222.pdf
[3].Nonaka, I., dan H. Takeuchi, 1995, The Knowledge Creating Company, Oxford University Press, New York
[4] LN

Create by Ahmad Latip (Mahasiswa Binus University)

Proses socilization dan combination yang terdapat pada model nonaka dan takeuchi


Jelaskan pemahaman anda mengenai proses socilization dan combination yang terdapat pada model nonaka dan takeuchi serta berikan contohnya (bisa disesuaikan dengan pengalaman sendiri).
Jawaban :

1.Socialization
Metode ini lebih kepada pengalaman seseorang (tacit knowledge). Maksudnya disini adalah, seseorang yang memiliki pengalaman diharapkan mau membagikan pengalaman atau ilmu yang didapat tersebut kepada orang lain (sharing knowledge). Bentuk sharing knowledge bisa berbagai cara. Berbagi pengetahuan tacit melalui tatap muka komunikasi atau pengalaman bersama. Informal sosial hubungan seksual dan mengajar dengan contoh-contoh praktis. 

Sosialisasi meliputi kegiatan berbagi pengetahuan tacit antar individu. Istilah sosialisasi digunakan, karena pengetahuan tacit disebarkan melalui kegiatan bersama – seperti tinggal bersama, meluangkan waktu bersama – bukan melalui tulisan atau instruksi verbal. Dengan demikian, dalam kasus tertentu pengetahuan tacit hanya bisa disebarkan jika seseorang merasa bebas untuk menjadi seseorang yang lebih besar yang memiliki pengetahuan tacit dari orang lain. 

* Sosialisasi merupakan Interaksi sosial, brainstorming, mentoring.
* Sharing pengalaman melalui pengamatan, praktek, peniruan.
* Keuntungan: mudah diimplementasikan
* Kerugian : pengetahuan masih dalam bentuk tacit, boros waktu dalam penyebarannya. 
* Contoh : Honda mengelola “brainstorming camps” (menciptakan rasa memiliki)
* Dalam prakteknya, sosialisasi dilakukan melalui kegiatan penangkapan pengetahuan lewat kedekatan fisik seperti interaksi antara pimpinan dan pegawai, pimpinan dengan pimpinan, pegawai dengan pegawai.
Contoh lain adalah magang, seminar, diskusi kelompok, menjadi motivator dan masih banyak lagi.

2.Combination
Kompilasi pengetahuan eksplisit ke entitas yang lebih luas externalized dan sistem konsep. Mengandung arti bahwa dari dokumen yang sudah ada tersimpan sebelumnya, kandungan materi atau isinya bisa diubah (ditambah/dikurangi) menyesuaikan dengan kondisi yang ada. Dengan demikian, sejumlah teori ilmu-ilmu yang tersimpan tersebut akan semakin bertambah baik lagi. Ketika pengetahuan adalah dalam bentuk eksplisit dapat dikombinasikan dengan pengetahuan yang telah diajukan sebelumnya. Dalam fase pengetahuan ini juga dianalisis dan terorganisir.

* Kombinasi meliputi konversi pengetahuan eksplisit ke dalam bentuk himpunan pengetahuan eksplisit yang lebih kompleks. Dalam prakteknya, fase kombinasi tergantung pada tiga proses berikut:
* Penangkapan dan integrasi pengetahuan eksplisit baru – termasuk pengumpulan data eksternal dari dalam atau luar institusi kemudian mengkombinasikan data - data tersebut.
* Penyebarluasan pengetahuan eksplisit tersebut melalui presentasi atau pertemuan langsung.
* Pengolahan pengetahuan eksplisit sehingga lebih mudah dimanfaatkan kembali – misal menjadi dokumen rencana, laporan, data pasar, dan sebagainya.
* Tidak ada penciptaan pengetahuan baru, tapi berupa tampilan baru dari pengetahuan yang ada. 
* Menyusun kembali bagian-bagian explicit knowledge ke dalam bentuk yang baru
* Contoh langkah cobination : laporan review, analisa trend, executive summary)

Sumber :
http://www.google.co.id/url?sa=t&rct=j&q=contoh%20socialization%20and%20combination%20yang%20terdapat%20pada%20model%20nonaka%20dan%20takeuchi&source=web&cd=3&ved=0CCkQFjAC&url=http%3A%2F%2Fsi.itmaranatha.org%2Fattachments%2F204_Pertemuan%25203.ppt&ei=mabmTuPfFsHrrQe01_i1Bw&usg=AFQjCNEBNJ9_BBO4MVzar2iGEkh79iwwTA&cad=rja
http://knowledgeandmanagement.wordpress.com/seci-model-nonaka-takeuchi/ 
http://kelompok3bol.wordpress.com/2011/07/21/teori-knowledge-management-menurut-nonaka-dan-takeuchi/ 

Create By YA (Mahaiswi Binus University)

Senin, 12 Desember 2011

Konsep Nonaka dan Takeuchi (1995)


Nonaka dan Takeuchi (1995) mendefinisikan transformasi pengetahuan tacit dan eksplisit 
menjadi empat mode, yaitu sosialisasi (socialization), eksternalisasi (externalization), kombinasi 
(combination) dan internalisasi (Internalization). Sosialisasi merupakan transformasi pengetahuan tacit 
individu ke pengetahuan tacit individu yang lain. Sosialisasi merupakan suatu proses penyebaran 
pengalaman (sharing experience) kepada individu yang lain, seperti model penyebaran mental dan 
ketrampilan teknis. Kunci untuk mengembangkan pengetahuan tacit adalah pengalaman. Tanpa 
pengalaman yang disebarkan atau dibagikan, akan sulit sekali bagi seseorang untuk mempengaruhi 
proses berpikir orang lain.Eksternalisasi adalah proses transformasi  pengetahuan tacit menjadi konsep pengetahuan 
eksplisit. Emig (1983) menyatakan bahwa menulis adalah salah satu aksi atau tindakan konversi 
pengetahuan tacit menjadi eksplisit (Nonaka dan Takeuchi, 1995). Mode eksternalisasi dari konversi 
pengetahuan secara tipikal terlihat seperti proses penciptaan konsep kreasi dan diperkuat dengan 
dialog atau kumpulan refleksi. Ketika tidak dapat menemukan ekspresi yang cukup untuk berimajinasi 
melalui metode analitik deduktif ataupun induktif, maka digunakan metode nonanalitik yaitu seringkali 
dilakukan dengan analogi atau model. 
Kombinasi adalah proses sistematisasi konsep menjadi pengetahuan sistem.  Dalam konversi 
ini melibatkan kombinasi dari pengetahuan eksplisit yang berbeda-beda. Perubahan individu dan 
kombinasi pengetahuan melalui media seperti dokumen, pertemuan (meeting), percakapan telepon, 
atau melalui jaringan komunikasi terkomputerisasi. 
Internalisasi adalah proses konversi dari pengetahuan eksplisit menjadi pengetahuan tacit. 
Internalisasi erat kaitannya dengan “learning by doing”. Untuk pengetahuan eksplisit bila menjadi 
pengetahuan tacit, akan sangat membantu diverbalisasi atau didiagramkan menjadi dokumen, manual 
atau cerita. Dokumentasi membantu individual menginternalisasi apa pengalaman mereka, sehingga 
akan memperkaya atau meningkatkan pengetahuan tacit mereka. Sebagai tambahan, dokumen atau 
manual dapat memfasilitasi perpindahan pengetahuan eksplisit ke orang lain, dengan menyebarkan 
pengalaman (secara eksplisit) kepada pengalaman orang lain (secara invidual).  Training atau 
pelatihan juga merupakan salah satu media internalisasi pengetahuan.
Pada organisasi pembelajar yang ideal, sosialisasi, eksternalisasi, kombinasi, dan 
internalisasi  akan senantiasa terjadi di dalam organisasi dengan kapasitas pengetahuan yang terus 
meningkat, dan apabila digambarkan dalam suatu diagram,  keempat proses transformasi tersebut 
akan membentuk spiral


Nonaka, I., dan H. Takeuchi, 1995, The Knowledge Creating Company, Oxford University Press, New
York.

Sabtu, 10 Desember 2011

Knowledge Management baik dari segi definisi, serta jenis-jenis pengetahuan dan manfaat dari KM itu sendiri.

Knowledge Management baik dari segi definisi, serta jenis-jenis pengetahuan dan manfaat dari KM itu sendiri.
Definisi dari Data, Informasi dan Knowledge akan saya berikan yang lebih sederhana, agar lebih mudah dipahami.
1. Data = kumpulan dari fakta-fakta mentah atau masih belum diolah.
2. Informasi = data yang telah diolah dan memiliki arti dan tujuan bagi si penerima.
3. Knowledge = Informasi yang memfasilitasi Aksi/tindakan (keyword untuk knowledge adalah adanya "action", itu yang membedakan dengan informasi).

Tipe Knowledge:
1. Tacit Knowledge: Pengetahuan yang belum terdokumentasikan dan susah untuk dikomunikasikan atau dibagikan (e.g pengalaman)
2. Explicit knowledge: Pengetahuan yang sudah terdokumentasikan dan mudah untuk dikomunikasikan atau dibagikan (e.g buku, slide, blog dll)

Sumber. My Lecture KM :Nuril Kusumawardhani Soeprapto Putri, S.T., MKM